Pendahuluan
Orientalisme berasal dari dua kata, yakni orient
dan isme. Orient artinya timur, dan isme artinya faham.[1]
Di dalam orientalisme, apabila kita menyebut orient artinya ialah semua
wilayah yang terbentang dari Timur Dekat sampai Timur Jauh dan juga negara
Afrika Utara dan Tengah.[2]
Untuk memberikan penjelasan yang lebih lengkap, seorang sarjana Turki yakni
Abdul Haq Adnan Adivar menyatakan bahwa orientalisme adalah suatu pengertian
yang lengkap yang mana dikumpulkan pengetahuan yang berasal dari sumbernya yang
asli yang berkenaan dengan bahasa, agama, kebudayaan, sejarah, ilmu bumi,
ethnografi, kesasteraan dan kesenian yang berada di Timur, dalam hal ini ialah
mengumpulkan pengetahuan yang berasal dari Timur, dan apabila kita melihat
sejarah perkembangannya maka ternyata bahwa yang giat melakukan pengumpulan
ilmu pengetahuan yang berasal dari Timur ialah orang-orang Barat, namun tekanan
kepada hanya orang-orang Barat saja sudah sukar untuk dipertahankan karena ada
orang-orang Timur sendiri yang ingin dimasukkan ke dalam golongan orientalisme
seperti sarjana-sarjan Turki dan Filiphina.[3] Tak lain, arti kata orientalis adalah ahli keislaman atau orang yang ahli
dalam bidang keislaman.
Al-Qur’an
yakni kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat
Jibril sebagai pedoaman dan petunjuk hidup bagi semua umat Islam. Pengertian
tersebut tidak selalu sejalan, apalagi dengan kaum non-muslim. Banyak juga para
orientalis yang mendalami studi tentang al-Qur’an dan bahkan mencintai Islam
bermula dari penelitiannya terhadap al-Qur’an.
Biografi Maurice Bucaille
Prof. Dr.
Maurice Bucaille lahir pada tanggal 19 Juli 1920 di Pont-L’Eveque, Perancis dan
berkuliah di Universitas Perancis. Maurice adalah anak dari Maurice dan Marie
(James) Bucaille, keluarga Kristian Roman Khatolik. Dia adalah salah seorang
doker atau ahli tokoh perobatan di Perancis sebagai ahli gastroenterologi. Dia
mulai berkecimpung di dunia kedokteran mulai tahun 1945 sampai 1982. Selain
menjadi dokter, Maurice juga seorang ahli dalam ikatan “Persatuan Ilmuwan Mesir
Purba Perancis”. Selanjutnya pada tahun 1973, Mourice telah dilantik sebagai
dokter keluarga Raja Faisal, Arab Saudi. Selain itu, Mourice juga pernah
merawat ahli-ahli keluarga Presiden Mesir yakni Anwar Sadat.
Pada tahun
1976, beliau menerbitkan 'Bible, Quran dan Sains' dan dijual berjuta-juta
salinan dan telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Dia berhujah bahawa Al-Quran mengandungi banyak penemuan-penemuan saintifik.
Pada tahun 1987, beliau menerbitkan satu lagi buku bertajuk: 'Mumia Firaun:
siasatan perubatan moden. Buku-bukunya mendapat
kritikan keras dari cendekiawan Barat terutama dari William F. Campbell.
Pandangan
Maurice terhadap Al-Qur’an
Mourice tidak seperti para tokoh orientalis lain yang kebanyakan menaruh
rasa skeptis terhadap al-Qur’an. Banyak diantara para orientalis yang
tidak mempercayai al-Qur’an. Namun, Maurice sedikit berbeda. Maurice dirujuk
sebagai concordism yakni mencari kesepadanan atau kesamaan antara kitab
suci dengan setiap penemuan baru dalam bidang sains. Oleh karena itu, semua
tentang al-Qur’an pun dia cocokan dengan segala bidang sains.
Menurut Maurice, al-Qur’an adalah
perkataan Allah SWT yang selaras dengan sains. Menurutnya, isi kandungan
al-Qur’an konsisten dengan sains dan pengetahuan modern. Dia membuktikan dengan
bukti kajiannya bahwasannya tentang penciptaan alam semesta, bumi, angkasa,
hewan, tumbuhan, pembiakan manusia dan lain sebagainya yang dia pelajari dalam
ilmu saintifik memang benar-benar ada di dalam al-Qur’an. Yang lebih
mengherankan lagi, banyak kandungan dalam al-Qur’an yang mengisahkan masa lampau
serta masa yang akan datang padahal al-Qur’an ada sebelum peristiwa di masa
yang akan datang itu terjadi.
Meskipun dia non-muslim, namun dia
percaya akan makna kandungan al-Qur’an. Dia memaparkan bahwa al-Qur’an tidak
seperti Bible ataupun Injil. Bible dan Injil menjelaskan perkara yang
benar-benar bertentangan dengan isi kandungan al-Qur’an begitu pula dengan ilmu
pengetahuan serta sains modern. Terutama dari segi penciptaan bumi, kemunculan
manusia di bumi, cerita banjir, cerita tentang Nabi Isa yang dinyatakan oleh
al-Kitab sangat melenceng dengan keilmuan sains. Berbeda dengan al-Qur’an,
dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa sains dan agama adalah saudara kembar, yakni
tidak ada kontradiksi antara Islam dengan sains
Maurice berpendapat bahwa Perjanjian Lama adalah tidak natural diakibatkan
dari banyaknya terjemahan dan berbagai pembetulan. Katanya, terdapat banyak
perselisihan dan pengulangan dalam Perjanjian Lama maupun Injil. Baginya Perjanjian Lama telah diputarbelitkan kerana berbagai terjemahan dan pembetulan yang telah
dihantar secara lisan. Berbeda
dengan al-Qur’an, meskipun disampaikan secara lisan oleh malaikat Jibril namun
selama hidupnya, Muhammad telah berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkannya.
Maka, Maurice berpendapat bahwa al-Qur’an masih murni dari Allah SWT.
Perbedaan
dan Persamaan Al-Qur’an dengan Bible
1. Penciptaan
Langit dan Bumi
Bagi banyak pengarang Eropa, riwayat Qur'an tentang penciptaan sangat mirip
dengan riwayat Bibel, dan mereka senang untuk menunjukkan dua riwayat tersebut
secara paralel. Saya merasa bahwa ide semacam itu salah, karena terdapat
perbedaan-perbedaan yang nyata antara dua riwayat. Dalam soal-soal yang penting
dari segi ilmiah, kita dapatkan dalam Qur'an keterangan-keterangan yang tak
dapat kita jumpai dalam Bibel. Dan Bibel memuat perkembangan-perkembangan yang
tak ada bandingannya dalam Qur'an.
Riwayat Bibel menyebutkan secara tegas bahwa penciptaan alam itu terjadi
selama enam hari dan diakhiri dengan hari istirahat, yaitu hari Sabtu, seperti
hari-hari dalam satu minggu. Kita telah mengetahui bahwa cara meriwayatkan
seperti ini telah dilakukan oleh para pendeta pada abad keenam sebelum Masehi,
dan dimaksudkan untuk menganjurkan mempraktekkan istirahat hari Sabtu. Tiap
orang Yahudi harus istirahat pada hari Sabtu sebagaimana yang dilakukan oleh
Tuhan setelah bekerja selama enam hari. Jika kita mengikuti faham Bibel, kata
"hari" berarti masa antara dua terbitnya matahari berturut-turut atau
dua terbenamnya matahan berturut-turut. Hari yang difahami secara ini ada
hubungannya dengan peredaran Bumi sekitar dirinya sendiri. Sudah terang bahwa
menurut logika orang tidak dapat memakai kata "hari" dalam arti
tersebut di atas pada waktu mekanisme yang menyebabkan munculnya hari, yakni
adanya Bumi serta beredarnya sekitar matahari, belum terciptakan pada
tahap-tahap pertama daripada penciptaan menurut riwayat Bibel. Jika kita
menyelidiki kebanyakan terjemahan Qur'an, kita dapatkan, seperti yang dikatakan
oleh Bibel, bahwa bagi wahyu Islam, proses penciptaan berlangsung dalam waktu
enam hari. Kita tidak dapat menyalahkan penterjemah-penterjemah Qur'an karena
mereka memberi arti "hari" dengan arti yang sangat lumrah.
Jika kita menyelidiki kebanyakan terjemahan Qur'an, kita dapatkan, seperti
yang dikatakan oleh Bibel, bahwa bagi wahyu Islam, proses penciptaan
berlangsung dalam waktu enam hari. Kita tidak dapat menyalahkan
penterjemah-penterjemah Qur'an karena mereka memberi arti "hari"
dengan arti yang sangat lumrah. Kita dapatkan terjemahan Q. S. Al-A’raf ayat 54:
Artinya: "Tuhanmu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam
enam hari."
Sedikit jumlah terjemahan atau tafsir Qur'an yang mengingatkan bahwa kata
"hari" harus difahami sebagai "periode." Ada orang yang
mengatakan leahwa teks Qur'an tentang penciptaan alam membagi tahap-tahap
penciptaan itu dalam "hari-hari" dengan sengaja dengan maksud agar
semua orang menerima hal-hal yang dipercayai oleh orang-orang Yahudi dan
orang-orang Kristen pada permulaan lahirnya Islam dan agar soal penciptaan
tersebut tidak bentrok dengan keyakinan yang sangat tersiar luas. Dengan tidak
menolak cara interpretasi seperti tersebut, apakah kita tidak dapat menyelidiki
lebih dekat dan meneliti arti yang mungkin diberikan oleh Qur'an sendiri dan
oleh bahasa-bahasa pada waktu tersiarnya Qur'an, yaitu kata yaum (jamaknya
ayyam). Arti yang paling terpakai daripada "yaum" adalah
"hari," tetapi kita harus bersikap lebih teliti. Yang dimaksudkan
adalah terangnya waktu siang dan bukan waktu antara terbenamnya matahari sampai
terbenamnya lagi. Kata jamak "ayyam" dapat berarti beberapa hari akan
tetapi juga dapat berarti waktu yang tak terbatas, tetapi lama. Arti kata
"ayyam" sebagai periode juga tersebut di tempat lain dalam Q. S.
Sajdah ayat 5: "Dalam suatu hari yang panjangnya seribu tahun dari
perhitungan kamu." Dalam ayat lain, surat Al-Ma'arij ayat 4, kita dapatkan:
"Dalam suatu hari yang panjangnya lima puluh ribu tahun." Bahwa kata
"'yaum" dapat berarti "periode" yang sangat berbeda dengan
"hari" telah menarik perhatian ahli-ahli tafsir kuno yang tentu saja
tidak mempunyai pengetahuan tentang tahap-tahap terjadinya alam seperti yang
kita miliki sekarang.[4]
Maka Abussu'ud, ahli tafsir abad XVI M tidak dapat menggambarkan hari yang
ditetapkan oleh astronomi dalam hubungannya dengan berputarnya bumi dan
mengatakan bahwa untuk penciptaan alam diperlukan suatu pembagian waktu, bukan
dalam "hari" yang biasa kita fahami, akan tetapi dalam
"peristiwa-peristiwa" atau dalam bahasa Arabnya "naubat."
Ahli-ahli tafsir modern mempergunakan lagi interpretasi tersebut. Yusuf Ali
(1934) dalam tafsirnya (bahasa Inggris), selalu mengartikan "hari"
dalam ayat-ayat tentang tahap-tahap penciptaan alam, sebagai periode yang
panjang. Kita dapat mengakui bahwa untuk tahap-tahap penciptaan alam, Qur'an
menunjukkan jarak waktu yang sangat panjang yang jumlahnya enam.
Sains modern tidak memungkinkan manusia untuk mengatakan bahwa proses
kompleks yang berakhir dengan terciptanya alam dapat dihitung "enam."
Tetapi Sains modern sudah menunjukkan secara formal bahwa persoalannya adalah
beberapa periode yang sangat panjang, sehingga arti "hari" sebagai
yang kita fahami sangat tidak sesuai.[5]
2. Banjir
Dalam bible pengartian banjir pada zaman Nabi Nuh yakni seluruh dunia. RP.
de Vaux menulis: "itu adalah dua sejarah tentang Banjir." Banjir
dalam dua riwayat itu disebabkan oleh faktor-faktor yang berlainan, dan
panjangnya waktu berlangsungnya, juga berlainan. Nabi Nuh dalam dua riwayat itu
juga memuatkan dalam perahu beberapa binatang yang jumlahnya juga berlainan.
Menurut pengetahuan modern, dalam keseluruhannya riwayat Banjir dalam Bibel
tidak dapat diterima, karena dua sebab: Perjanjian Lama melukiskan banjir itu
melanda seluruh dunia, sedangkan paragraf-paragraf daripada sumbersumber
Yahwist tidak menyebutkan waktu terjadinya banjir, sedangkan riwayat Sakerdotal
menyebutkan suatu waktu yang menurut sejarah banjir dunia semacam itu tidak
bisa terjadi.
Qur'an menyajikan versi keseluruhan yang berlainan dan tidak menimbulkan kritik
dari segi sejarah. Jika Bibel menceritakan Banjir Dunia untuk menghukum seluruh
kemanusiaan yang tidak patuh, sebaliknya al-Qur'an menceritakan bermacam-macam
hukuman yang dikenakan kepada kelompok-kelompok tertentu. Al-Qur’an menjelaskan
siapa saja yang ada di dalam perahu Nabi Nuh, hewan sepasang (jantan dan
betina), umatnya dan keluarganya serta pengecualian yakni anak Nabi Nuh. Namun,
di Bibel tidak menjelaskan pengecualian tersebut.[6]
Maurice
Masuk Islam (Exodus Musa)
Pada tahun 1974, untuk mengetahui sebab-sebab kematian Marenptah, Ramesses II dan dan mumia Mesir yang lain, penyelidikan dilakukan oleh rakan-rakan di Mesir dan mendapat kerjasama dari pakar Perancis dari berbagai disiplin ilmu
perobatan yang
diketuai oleh Maurice. Keputusan tentang mumia itu telah mendapat persetujuan dan pengakuan daripada Akademi Perobatan dan
Persatuan Perobatan Forensik Perancis. Kemudian beliau telah
menerbitkan buku berjudul “Mumia Firaun: Sebuah Penelitian Perobatan Modern (judul asalnya: Les Momies des Pharaons et la Médecine)”, yang berisi tentang mumia Firaun dan obat-obatan
purba. Beliau menerima peringkat Le Prix Diane Potier-Boes (Penghargaan Dalam Sejarah)
oleh Académie Française dan anugerah Prix Général daripada Académie Nationale
de Médecine, Perancis pada tahun 1988. Dengan buku inilah, Maurice mulai terkenal.
Maurice mulai percaya dengan al-Qur’an dan juga Islam berawal dari Mumi
Fir’au tersebut. Saat dia meneliti mumi Fir’aun, dia menemukan sisa-sisa garam
yang melekat di tubuh Fir’aun. Hal tersebut sejalan dengan sejarah Mati Fir’aun
yang mati karena tenggelam di laut, baik berada di al-Qur’an maupun Bible.
Bedanya, jika al-Qur’an menyebutkan bahwa jasad tersebut kemudian kelak akan
ditemukan, sedangkan dalam Bible hanya menjelaskan tenggelamnya Fir’aun.
Awalnya dia tidak percaya dengan fakta dalam al-Qur’an yang menjelaskan
mumi Fir’aun akan selamat dan kelak akan ditemukan. Maurice tidak bisa percaya
karena jika dipikir menggunakan akal, itu semua tidak akan mungkin terjadi.
Mengapa? Karena mumi Fir’aun baru ditemukan sekitar tahun 1898 dan tidak
mungkin pula Nabi Muhammad mengetahui sejarahnya karena Muhammad lahir lama
setelah Fir’aun tenggelam. Kemungkinan yang bisa diambil hanya, mumi Fir’aun
ditemukan kemudian ada yang merawatnya sehingga hingga kini mumi Fir’aun masih
ada (sesuai isi al-Qur’an) berbeda dengan Bible yang hanya menyatakan
tenggelamnya Fir’aun.
“Air (laut) pun kembali seperti sebuah lautan yang berombak dan beralun, menenggelamkan
kereta-kereta (chariot) kuda, pasukan berkuda dan seluruh bala tentera Fir’aun tanpa
ada seorang pun yang berjaya menyelamatkan diri. Tetapi anak-anak Israel dapat
menyelamatkan diri atas daratan kering di tengah-tengah laut itu”.(Exodus 14:28
dan Psalm 136:15)
Seperti
yang tertera di atas bahwa Injil Matius dan Lukas hanya menceritakan tentang Firaun lemas semasa
mengejar Nabi Musa tetapi tidak diceritakan nasib mayat Fir’aun itu.
Berbeda
dengan kutipan al-Qur’an dalam Q. S. Yunus: 92
فاليوم ننجيك ببدنك لتكون لمن خلفك أية
وان كثيرا من الناس عن أيتنا لغفلون
“Maka pada
hari ini Kami selamatkan badan kamu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi
orang-orang yang datang sesudah kamu dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah
dari tanda-tanda kekuasaan Kami." (Q. S. Yunus: 92)
Dari ayat
di atas, al-Qur’an Quran jelas menceritakan nasib Fir’aun yang
lemas ketika mengejar kumpulan anak Israel yang dipimpin oleh Nabi Musa yang kemudian menjelaskan penyelamatan tubuh Fir’aun.
Daftar Pustaka
Umar, A. Muin, Orientalisme dan
Studi tentang Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1978.
Bucaille, Maurice, Bibel,
Qur’an dan Sains Modern, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar